Zohran Mamdani mencetak sejarah sebagai wali kota Muslim pertama yang memimpin New York City, kota terbesar di Amerika Serikat, setelah memenangkan pemilu yang digelar pada Selasa, 4 November 2025 waktu setempat. Ia mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo dalam persaingan sengit yang menjadi sorotan global, dengan memperoleh sekitar 44 persen suara dalam pemilihan tersebut, sementara Cuomo hanya meraih sekitar 40 persen suara, dan kandidat dari Partai Republik, Curtis Sliwa, 24 persen suara. Kemenangan Mamdani menjadi tonggak penting bagi kota dengan populasi lebih dari 8,4 juta jiwa yang merupakan pusat ekonomi dan budaya dunia.
Zohran Mamdani lahir di Uganda dari keluarga keturunan India, ibunya adalah sutradara film internasional Mira Nair, dan ayahnya adalah akademisi Mahmood Mamdani. Ia besar di New York dan bersekolah di Bronx High School of Science, kemudian lulus dari Bowdoin College dengan gelar studi Africana. Mamdani aktif dalam politik lokal sejak awal dan dikenal sebagai sosialis yang fokus pada isu keadilan sosial, pengurangan biaya hidup, dan pergeseran politik progresif. Ia mulai dikenal publik setelah terpilih sebagai anggota Majelis New York pada 2020 dan sudah dua kali terpilih kembali dengan mudah di distrik Queens.
Selama kampanye, Mamdani menekankan program-program ambisius seperti menyediakan transportasi umum gratis, pendidikan anak usia dini gratis, dan pembekuan harga sewa rumah untuk meringankan beban warga New York. Untuk membiayai rancangan ini, ia berencana menaikkan pajak terhadap perusahaan besar dan warga berpenghasilan tinggi. Kendati demikian, upaya tersebut memerlukan dukungan legislatif di tingkat kota dan negara bagian. Ia juga dihadapkan pada tantangan untuk merangkul berbagai kelompok politik, termasuk Demokrat moderat dan pendukung progresif seperti Democratic Socialists of America, yang memainkan peran besar dalam kampanyenya.
Kemenangan Mamdani mencuat di tengah ketegangan politik dengan mantan Presiden Donald Trump, yang secara terbuka menyatakan penentangannya terhadap pemerintahan Mamdani dan mengancam akan memotong dana federal ke New York City. Trump bahkan menyebut Mamdani sebagai “pembenci Yahudi” di media sosial, memancing kontroversi dan kemungkinan pertentangan politik yang keras selama masa jabatan Mamdani.
Sebagai sosok muda berumur 34 tahun, Mamdani membawa wajah baru dalam politik New York yang sebelumnya didominasi figur politik berpengalaman. Ketenarannya didukung oleh gaya kampanye yang santai dan penggunaan media sosial yang efektif, sehingga berhasil membangun hubungan erat dengan pemilih, terutama generasi muda dan komunitas yang merasa terpinggirkan secara ekonomi dan sosial.
Penduduk New York dari berbagai latar belakang menyaksikan terpilihnya Mamdani dengan harapan besar, meskipun mereka juga menyadari tantangan berat yang harus ia jalankan. Sebagian warga mengungkapkan optimisme bahwa visi dan program Mamdani dapat membawa perubahan positif bagi kota yang selama ini menghadapi tantangan besar dalam hal biaya hidup yang tinggi dan ketimpangan sosial.
Zohran Mamdani bukan hanya simbol sejarah sebagai wali kota Muslim pertama, tetapi juga representasi dari perubahan politik yang mengutamakan keadilan sosial dan keterjangkauan kehidupan kota. Kepemimpinannya diharapkan dapat menginspirasi generasi baru pemimpin yang lebih progresif dan berani mengambil sikap dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial urban yang kompleks.
Dengan kemenangan ini, New York City memasuki babak baru kepemimpinan yang akan diuji dalam upaya mewujudkan janji-janji kampanye Mamdani, sekaligus menghadapi dinamika politik nasional yang kemungkinan akan terus menimbulkan perselisihan antara pemerintahannya dan federal di bawah pengaruh tokoh-tokoh konservatif seperti Trump
Sumber :
Amelia Putri, S.H














