Kasus keracunan massal siswa akibat makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun 2025. Program yang dirancang untuk meningkatkan gizi siswa ini justru memicu insiden keracunan yang menyebabkan ratusan hingga ribuan anak sekolah menderita gejala kesehatan serius.
Gejala yang umum dialami meliputi diare, mual, muntah, pusing, gatal-gatal, sesak nafas, dan sakit kepala yang memaksa banyak siswa dirawat di rumah sakit.
Terjadi insiden besar di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, pada 17 September 2025, di mana 251 siswa mulai dari SD hingga SMA diduga mengalami keracunan setelah menyantap lauk ikan cakalang yang terindikasi tidak layak konsumsi. Para siswa yang sakit langsung dilarikan ke RSUD Trikora Salakan untuk mendapatkan perawatan.
Pada hari yang sama, sebanyak 150 siswa di Kabupaten Garut, Jawa Barat, juga mengalami gejala keracunan berupa sakit perut setelah menikmati makanan MBG. Dinas Kesehatan Garut melaporkan jumlah siswa yang terkena keracunan telah mencapai 569 orang dengan gejala yang mirip.
Insiden serupa juga terjadi di Bandung Barat, Jawa Barat, di mana ratusan siswa dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK keracunan menu MBG yang diduga dimasak terlalu dini sehingga saat dibagikan sudah tidak layak dikonsumsi. Diperkirakan lebih dari 364 siswa terdampak dan dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan setempat.
Selain itu, sejak awal tahun 2025 hingga pertengahan tahun, tercatat setidaknya 1.376 siswa di berbagai daerah mengalami keracunan akibat kontaminasi bakteri pada makanan MBG seperti E. coli, Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan jamur Candida tropicalis. Insiden ini cukup memicu trauma di kalangan orang tua dan siswa yang mulai menolak program tersebut.
Pihak Istana Kepresidenan dan Badan Gizi Nasional (BGN) mendapat perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan agar program MBG dievaluasi dan diperbaiki agar tidak terjadi insiden keracunan lagi. Presiden menekankan target zero accident dalam program ini demi keselamatan dan kesehatan siswa penerima manfaat.
Kasus keracunan MBG ini mengundang kritik tajam terhadap pelaksanaan program makan gratis pemerintah. Para ahli gizi dan pendidik mendesak evaluasi menyeluruh dan perbaikan manajemen distribusi serta pengolahan makanan untuk memastikan kesehatan siswa terlindungi.
Sejumlah sekolah dan daerah bahkan terpaksa menghentikan sementara pelaksanaan MBG setelah kejadian keracunan untuk menghindari penyebaran lebih lanjut.
Dinas Kesehatan setempat terus mengambil sampel makanan dan muntahan siswa untuk analisis laboratorium guna mencari akar penyebab keracunan tersebut.
Program MBG yang awalnya diharapkan membantu meningkatkan gizi anak-anak sekolah kini menjadi momok karena dampak buruk keracunan massal yang dialami ribuan siswa. Kasus ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah agar memperketat standar kualitas dan keamanan makanan dalam program sosial berskala besar.
Sumber :
https://www.tempo.co/politik/rentetan-kasus-keracunan-di-program-makan-bergizi-gratis-2071009
https://news.detik.com/berita/d-8120383/marak-kasus-keracunan-makan-bergizi-gratis-di-daerah-istana-colek-bgn
Amelia Putri, S.H













