Mengenal KTT Perdamaian Gaza 2025: Tujuan Besar Menutup Babak Konflik
Nama : Septia alzahra siregar
Nim :0204242075
Dosen Pengampu : Indana Zulfah, S.H., M.H.
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
- Mengenal KTT Perdamaian Gaza 2025: Tujuan Besar Menutup Babak Konflik
[Nama Kota, 27 Oktober 2025] – Setelah melewati periode konflik berkepanjangan yang menyebabkan krisis kemanusiaan parah di Jalur Gaza, dunia internasional berupaya keras menghentikan permusuhan dan membuka jalan menuju perdamaian abadi melalui penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza 2025, atau yang secara resmi dikenal sebagai KTT Sharm El-Sheikh.
Pertemuan diplomatik tingkat tinggi ini diadakan pada 13 Oktober 2025 di kawasan resor Sharm El-Sheikh, Mesir. KTT ini menjadi titik krusial menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang merupakan bagian dari fase awal rencana perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat.
Tujuan Utama KTT Perdamaian Gaza 2025
KTT Sharm El-Sheikh memiliki tujuan utama yang kompleks dan ambisius, yang secara garis besar bertujuan untuk menutup babak perang dan memulai era stabilitas dan kemakmuran di wilayah tersebut. Tujuan-tujuan tersebut meliputi:
Mengamankan Gencatan Senjata Jangka Panjang: Tujuan paling mendesak adalah untuk memperkuat dan menjaga gencatan senjata yang telah disepakati agar tidak terjadi lagi eskalasi konflik di masa depan.
Menerapkan Rencana Perdamaian Fase Selanjutnya: KTT ini dirancang untuk membahas langkah-langkah berikutnya dalam implementasi proposal perdamaian yang dikenal sebagai “Rencana Perdamaian Trump” atau Gaza Peace Plan, terutama setelah fase pertama (pertukaran sandera dan tahanan) berhasil dilaksanakan.
Menetapkan Tata Kelola Pasca-Konflik: Membahas dan menyepakati kerangka kerja untuk pemerintahan Jalur Gaza di masa depan, termasuk pengawasan keamanan dan transisi menuju pemerintahan teknokratis Palestina.
Mendorong Bantuan Kemanusiaan dan Rekonstruksi: Menggalang dukungan dan komitmen internasional untuk upaya rekonstruksi besar-besaran di Gaza yang hancur, serta menjamin masuknya bantuan kemanusiaan (makanan, obat-obatan, bahan bakar) secara berkelanjutan.
Menciptakan Stabilitas Regional: Menggunakan momentum perdamaian ini untuk mendorong normalisasi hubungan regional yang lebih luas, seperti melalui perluasan Abraham Accords, demi keamanan dan kemakmuran bersama.
Isu-Isu Kunci yang Dibahas
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan sekitar 30 negara, termasuk Presiden dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Mesir, serta pemimpin dari Qatar dan Turki, isu-isu yang menjadi fokus utama diskusi adalah:
1. Demiliterisasi dan Keamanan Gaza
Salah satu isu paling menantang yang dibahas adalah tuntutan demiliterisasi Jalur Gaza dan pembubaran kemampuan militer Hamas. Rencana perdamaian menyerukan agar Gaza menjadi “zona bebas teror” yang tidak menimbulkan ancaman bagi tetangganya. Ini termasuk diskusi mengenai penempatan pasukan stabilisasi internasional di bawah bendera PBB, dengan beberapa negara, termasuk Indonesia, menawarkan kontribusi personel.
2. Tata Kelola dan Pemerintahan Transisi
KTT ini membahas bagaimana Gaza akan dijalankan pasca-perang. Proposal utama mencakup pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang akan mengawasi pembangunan kembali dan pemerintahan Gaza. Dewan ini akan dipimpin dan diketuai oleh tokoh internasional, yang bertujuan untuk memfasilitasi transisi ke pemerintahan Palestina yang stabil (teknokrat) tanpa keterlibatan Hamas.
3. Rekonstruksi dan Pendanaan
Dengan estimasi kebutuhan dana rekonstruksi mencapai puluhan miliar Dolar AS, isu pendanaan menjadi vital. Para pemimpin berdiskusi tentang cara mobilisasi sumber daya internasional dan penyaluran bantuan secara efektif dan transparan. Mesir juga berencana mengadakan konferensi rekonstruksi lanjutan.
4. Jaminan Hukum dan Politik
Para penengah (termasuk AS, Mesir, Qatar, dan Turki) menandatangani deklarasi untuk mendukung implementasi kesepakatan gencatan senjata. Meskipun demikian, KTT ini dikritik karena Israel dan Hamas dilaporkan tidak hadir dalam penandatanganan dokumen akhir, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen substantif kedua pihak utama dalam jangka panjang.
Kehadiran Indonesia, yang diwakili oleh Presiden, menegaskan komitmen kuat negara ini terhadap perdamaian dan keadilan bagi Palestina. Indonesia diakui memiliki peran penting dalam diplomasi global dan menawarkan langkah konkret, seperti kesediaan untuk mengirimkan hingga 20.000 prajurit TNI sebagai pasukan penjaga perdamaian di bawah mandat PBB.
Secara keseluruhan, KTT Perdamaian Gaza 2025 merupakan langkah besar diplomatik yang mencoba merumuskan cetak biru untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Meskipun hasil akhir KTT dikritik karena dinilai terlalu simbolis dan kurang detail dalam implementasinya, pertemuan ini telah meletakkan kerangka kerja awal untuk memulihkan Gaza dan mendorong terciptanya perdamaian yang komprehensif.
Sumber : AntaraNews (https://www.antaranews.com/berita/5174813/mengenal-ktt-perdamaian-gaza-2025-tujuan-dan-isu-yang-dibahas)














