Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), tetap bungkam setelah serangan terbaru terhadap fasilitas nuklir Iran oleh Israel dan Amerika Serikat. AS secara terbuka menyatakan keterlibatannya dalam serangan ini, meskipun faktanya fasilitas nuklir Iran sebelumnya telah menerima persetujuan dari IAEA. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi pelanggaran piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai senjata nuklir.
Menanggapi anggapan bahwa masyarakat global tidak bertindak, Iran melaporkan berencana menutup Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis. Selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan merupakan jalur penting untuk distribusi minyak global. Dewan Syura Iran telah mengusulkan tindakan drastis ini, yang dapat secara signifikan mengkalibrasi ulang pasar energi global dan menegaskan pengaruh Teheran atas keamanan regional.
Penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar pada pasar energi dunia. Menurut penelitian dari lembaga penelitian Fortexa, negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab, yang sangat bergantung pada ekspor minyak melalui rute ini, dapat menghadapi kerugian pendapatan miliaran dolar setiap hari.
Di sisi lain, negara-negara pengimpor seperti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan akan menghadapi risiko signifikan terhadap pasokan energi mereka. Bahkan Amerika Serikat, meskipun kemandirian energinya semakin meningkat, masih mengimpor sekitar 700.000 barel minyak per hari melalui Selat Hormuz.
Potensi gangguan pada rute pelayaran penting ini juga akan berdampak pada kapal-kapal yang berbendera Panama, Liberia, dan Kepulauan Marshall, serta kapal-kapal milik perusahaan pelayaran Yunani, Jepang, dan Cina.
Saat ketegangan meningkat, dunia memikirkan untuk melihat bagaimana situasi ini akan terungkap dan tindakan apa yang akan diambil oleh komunitas internasional dalam menanggapi rencana Iran.
Titin Umairah, S.H














